Menolak Lupa

Review Novel Misteri Girls in the Dark

2 Mar 2017 - 03:08 WIB

Kau pernah ingin membunuh seseorang? Gadis itu mati, si ketua klub sastra, Shiraishi Itsumi. Pembunuhan? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu. *blurb lengkap dan keterangan buku ada di akhir tulisan ini*

25924081

Saya membaca novel ini sudah lebih dari setahun yang lalu. Waktu itu saya menyelesaikan membaca novel ini dalam waktu sekali duduk, satu malam. Sialan, bikin capek aja. Memang tidak tebal, cerita berakhir di halaman 277. Tapi saya jarang menyelesaikan membaca novel dalam waktu sekali duduk. Novela Animal Farm karya George Orwell yang hanya memiliki 140 halaman saja butuh beberapa hari untuk menyelesaikannya *ini sih karena faktor malas  *.

Sebenarnya premis ceritanya biasa saja. Pesan yang ingin disampaikan dari novel ini juga tidak perlu direnungkan dalam-dalam. Penuturan yang digunakan juga lugas dan jelas. Tidak banyak alegori atau metafora berisi pesan filosofis yang biasanya membuat pembaca mikir. Sekali membaca kalimat-kalimatnya sudah mengerti maksudnya (salut sama penerbit yang nerjemahin novel ini, banyak catatan kaki yang menambah wawasan). Mungkin karena novel ini memang bukan ditulis untuk menyampaikan pesan melalui kata-kata filosofis dan simbolis layaknya novel-novel berbalut metafora atau alegori. Novel ini ada untuk dinikmati jalan ceritanya. Tentu saja, karena ini novel misteri.

Keseruan membaca novel misteri adalah bagaimana cerita dimulai, perkembangan cerita, dan tentunya twist demi twist yang disajikan menuju ending. Sebagian besar pembaca misteri selalu menduga-duga  dan berprasangka dengan adegan demi adegan yang ditulis pengarangnya. Apalagi penyajian cerita dengan berbagai sudut pandang dari masing-masing tokohnya membuat pembaca seperti sedang bermain peran tapi tidak tahu jalan ceritanya. Dan pengarang novel ini berhasil menanamkan pola tersebut ke otak pembaca.  Kalau biasanya saya menikmati membaca novel karena metafora dan berbagai hal filosofis di dalamnya, kali ini bukan karena itu. Saya tidak terlalu terkagum-kagum dengan bahasa penuturan pengarangnya, karena itu memang bukan hal utama untuk novel ini. Yang membuat saya rela menghabiskan malam sampai pagi adalah twist demi twist yang dituturkan melalui berbagai sudut pandang tokoh-tokohnya—yang sejujurnya sampai tengah sudah tidak mengejutkan lagi dan bisa saya tebak endingnya.

Ketika sampai akhir cerita, ending seperti itu tidak mengagetkan sama sekali bagi saya. Meskipun begitu, akhir cerita novel ini memang sangat memuaskan. Menurut saya, ini salah satu novel misteri dengan ending yang berhasil. Recommended untuk pembaca novel misteri yang menginginkan suasana lain jika sedang bosan dengan misteri klasik ala-ala Conan Doyle, Agatha Christie, EA Poe, Edogawa Ranpo, dan sejenisnya.


Blurb :

Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu…?
Gadis itu mati.
Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.
Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.
Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi….
Kau… pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

Author : Akiyoshi Rikako
Title : Girls in the Dark
Original Title :Ankoku Joshi
Published : August 1st 2015 by Penerbit Haru (first published June 19th 2013)
Edition Language :Indonesian
Paperback, 298 pages


TAGS   buku / review buku / review novel / novel jepang / novel misteri / girls in the dark / akiyoshi rikako / penerbit haru / resensi /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive